Sebagai mahasiswa yang mempunyai
segudang aktivitas selain berkuliah yang pasti saya mempunyai banyak cita-cita
yang menjadi daftar tunggu dalam rencana hidup. Untuk mencapai itu semua tidak
cukup hanya menjadi manusia biasa yang tidak memiliki pengaruh. Tapi juga harus
bisa menjadi seseorang yang berharga dan berpengaruh serta dilandasi kerendahan
hati yang tidak boleh dilupakan.
Dari sekian banyak deretan
aktivitas itu, impact yang bisa saya
rasakan akan adalah bagaimana bisa menjadi berharga dan terus belajar. Yang pastinya
untuk belajar menjadi seseorang yang memiliki skill yang mumpuni.
Ketika berbicara skill, yang sedang saya tekuni saat ini
adalah communication skill yang dapat
diimplemetasikan kedalam berbagai lingkupan kehidupan. Banyak orang-orang hebat
yag turut serta dalam proses tersebut bahkan orang tua sekalipun. Skill yang menjadi proses pembelajaran
saya tersebut akan membuat diri kita menjadi berharga.
Beberapa tahun ini, terutama
setelah melanjutkan studi di perkuliahn 3 banyak hal yang saya dapatkan untuk
bisa menunjang dan membuat saya lebih berharga dan memanfatkan communication skill yang sedang saya
coba untuk kupas semakin dalam. Salah satunya dalam bidang memandu acara. Memandu
acara sudah menjadi hobi sekaligus sumber uang jajan tambahan untuk saya. Beberapa
acara sudah saya lewati dan banyak pengalaman yang saya dapatkan.
(sumber : Dokumentasi Pribadi Penulis)
Tapi disini saya tidak akan
membahas apa dan berapa acara yang sudah
berhasil saya lakukan sebagai prestasi. Tapi saya membahas beberapa kegagalan
yang membuat saya merasa semakin berharga dan termotivasi.
Sejak duduk dibangku SMP, saya
sudah mulai mengikuti beberapa ajang pemilihan duta untuk internal maupun
eksternal sekolah, tapi hasilnya selalu gagal dan membuat saya down.
(sumber : google.com)
Belajar dari kejadian itu di
bangku SMK saya pun mengikuti beberapa ajang pemilihan ambassador salah satu produk provider, tapi dengan segala perjalan
dan kapasitas yang masih minim akhirny gagal untuk bisa mencapi puncak dan
mendapatkan gelar ambassador. Sampai akhirya motivasi saya sempat berkurang
dan hilang. Sampai akhirnya saya disebut sebagai Duta Gagal oleh teman-teman saya.
Kegagalan senjutnya adalah
masalah studi saya. Waktu terus berjalan sampai akhirnya saya harus masuk ke
perguruan tinggi. Cita-cita untuk dapat bergabung di perguruan tinggi negeri di
jurusan Ilmu Komunikasi harus luntur dengan beberapa faktor. Hingga waktu itu saya harus memutar otak,
bagaimana caranya agar saya tetap bisa masuk di jurusan Ilmu Komunikasi
walaupun di perguruan tinggi swasta.
Sempat iri dan minder dengan keberhasilan teman-teman
dengan keberhasilan untuk dapat tembus di perguruan tinggi negeri yang
diinginkan. Tapi karena banyak dukungan dan support yang teman, keluarga serta
orang-orang disekitar, saya menjaid lebih kuat dan dapat menerima itu semua.
Bisa dibayangkan, berapa banyak
kegagalan yang sudah saya lewati bahkan sampai saat ini. Tapi yang perlu
digarisbawahi adalah hal yang membuat saya menjadi berharga adalah bukan
prestasi yang pernah saya dapatkan tapi kegagalan-kegagalan yang sudah Allah
berikan untuk membuat saya semakin belajar, belajar, dan belajar serta
mengamalkan itu semua. Justru kegagalan-kegagalan itu membuat saya semakin kuat
dan lebih berharga. Dan saya harus bersyukur untuk hal tersebut.


0 comments:
Post a Comment