:::: MENU ::::

Thursday, 29 September 2016

Sebagai mahasiswa yang mempunyai segudang aktivitas selain berkuliah yang pasti saya mempunyai banyak cita-cita yang menjadi daftar tunggu dalam rencana hidup. Untuk mencapai itu semua tidak cukup hanya menjadi manusia biasa yang tidak memiliki pengaruh. Tapi juga harus bisa menjadi seseorang yang berharga dan berpengaruh serta dilandasi kerendahan hati yang tidak boleh dilupakan.
Dari sekian banyak deretan aktivitas itu, impact yang bisa saya rasakan akan adalah bagaimana bisa menjadi berharga dan terus belajar. Yang pastinya untuk belajar menjadi seseorang yang memiliki skill yang mumpuni.

Ketika berbicara skill, yang sedang saya tekuni saat ini adalah communication skill yang dapat diimplemetasikan kedalam berbagai lingkupan kehidupan. Banyak orang-orang hebat yag turut serta dalam proses tersebut bahkan orang tua sekalipun. Skill yang menjadi proses pembelajaran saya tersebut akan membuat diri kita menjadi berharga.

Beberapa tahun ini, terutama setelah melanjutkan studi di perkuliahn 3 banyak hal yang saya dapatkan untuk bisa menunjang dan membuat saya lebih berharga dan memanfatkan communication skill yang sedang saya coba untuk kupas semakin dalam. Salah satunya dalam bidang memandu acara. Memandu acara sudah menjadi hobi sekaligus sumber uang jajan tambahan untuk saya. Beberapa acara sudah saya lewati dan banyak pengalaman yang saya dapatkan.

(sumber : Dokumentasi Pribadi Penulis)


Tapi disini saya tidak akan membahas  apa dan berapa acara yang sudah berhasil saya lakukan sebagai prestasi. Tapi saya membahas beberapa kegagalan yang membuat saya merasa semakin berharga dan termotivasi.

Sejak duduk dibangku SMP, saya sudah mulai mengikuti beberapa ajang pemilihan duta untuk internal maupun eksternal sekolah, tapi hasilnya selalu gagal dan membuat saya down.


(sumber : google.com)

Belajar dari kejadian itu di bangku SMK saya pun mengikuti beberapa ajang pemilihan ambassador salah satu produk provider, tapi dengan segala perjalan dan kapasitas yang masih minim akhirny gagal untuk bisa mencapi puncak dan mendapatkan gelar ambassador.  Sampai akhirya motivasi saya sempat berkurang dan hilang. Sampai akhirnya saya disebut sebagai Duta Gagal oleh teman-teman saya.

Kegagalan senjutnya adalah masalah studi saya. Waktu terus berjalan sampai akhirnya saya harus masuk ke perguruan tinggi. Cita-cita untuk dapat bergabung di perguruan tinggi negeri di jurusan Ilmu Komunikasi harus luntur dengan beberapa faktor.  Hingga waktu itu saya harus memutar otak, bagaimana caranya agar saya tetap bisa masuk di jurusan Ilmu Komunikasi walaupun di perguruan tinggi swasta.



Sempat iri dan minder dengan keberhasilan teman-teman dengan keberhasilan untuk dapat tembus di perguruan tinggi negeri yang diinginkan. Tapi karena banyak dukungan dan support yang teman, keluarga serta orang-orang disekitar, saya menjaid lebih kuat dan dapat menerima itu semua.

Bisa dibayangkan, berapa banyak kegagalan yang sudah saya lewati bahkan sampai saat ini. Tapi yang perlu digarisbawahi adalah hal yang membuat saya menjadi berharga adalah bukan prestasi yang pernah saya dapatkan tapi kegagalan-kegagalan yang sudah Allah berikan untuk membuat saya semakin belajar, belajar, dan belajar serta mengamalkan itu semua. Justru kegagalan-kegagalan itu membuat saya semakin kuat dan lebih berharga. Dan saya harus bersyukur untuk hal tersebut. 

0 comments:

Post a Comment